Kemitraan inovatif dengan pemerintah dan swasta

July 13, 2017

Indonesia Placeholder
Indonesia

Kemitraan inovatif dengan pemerintah dan swasta

Tentang organisasi Pelaksana: 

Nama: Perhimpunan LAWE

Negara: Indonesia

Tahun Didirikan: 2004

Jenis organisasi: Asosiasi atau organisasi berbasis komunitas / Status nirlaba yang diakui secara hukum / Usaha atau usaha masyarakat / Bisnis koperasi / Asosiasi atau organisasi perempuan

Deskripsi dan inovasi dari solusi

Lawe sudah bermitra dengan beberapa pemerintah lokal dalam mengembangkan prakarsa ini. Kemitraan bersifat sebagai konsultan pelatihan yang diperuntukan bagi kelompok perempuan penenun di wilayah mereka masing-masing. Selain itu, Lawe untuk mengurangi kemiskinan bagi perempuan di beberapa wilayah, Lawe bermitra dengan kelompok komunitas perempuan bernama The Blessing Basket Project (www.blessingbasket.org). The Blessing Basket mencarikan pasar ekspor di Amerika bagi produk-produk turunan tenun kelompok perempuan dampingan Lawe. Saat ini, Lawe dan kelompok dampingan perempuan batik di Pakem, Yogyakarta, sedang menyiapkan 13.000 unit produk turunan dari batik berupa scarf dan tote bag.
Model network juga dikembangkan oleh Lawe untuk membangun gerakan bersama dengan berbagai pihak, ditingkat nasional dan internasional seperti kemitraan dengan Terasmitra –GEF SGP. Lawe menjadi salah satu anggota Terasmitra. Kemitraan ini berfungsi sebagai gerakan bersama untuk menyuarakan kerja-kerja komunitas dan perempuan ditingkat yang lebih tinggi yaitu nasional dan internasional guna memperoleh dukungan yang lebih luas lagi. Terasmitra (www.terasmitra.com) memberikan kesempatan untuk peningkatan kapasitas, pemberian informasi, akses pendanaan, dan jaringan pemasaran.

Elemen Alam

Sungai

Jenis Tindakan

Penggunaan berkelanjutan / Akses dan pembagian keuntungan

Elemen Pembangunan Berkelanjutan

Pekerjaan dan mata pencaharian

Terkait Berkelanjutan Development Goal (s)

  

Dampak lingkungan

Alat tenun berasal dari bukan sembarang kayu. Kayu Ampupu dan Cemara yang sudah tua dan jatuh dari pohonnya untuk penjepit benang. Serat dari tanaman Enau dibutuhkan untuk mengikat peralatan tenun, pohon Taduk yang kayunya licin untuk memisahkan benang atas dan benang bawah. Kulit pohon Gewang untuk mengikat. Buah dan akar mengkudu dan kulit cemara untuk pewarna merah. Serat nila pewarna hitam, kunyit pewarna kuning dan arbila atau kacang hutan menjadi pewarna hijau. Itulah sebabnya, tenun tak hanya menghasilkan kain, tapi juga berperan menjaga tanah dan hutan adat serta keragamanhayati. Di program Weaving for Life, Lawe melakukan konservasi lahan kritis dengan melakukan penanaman tanaman lokal untuk bahan baku tenun. Lawe juga menjalankan program zero waste dengan mengolah limbah kain menjadi produk bernilai ekonomi. Lawe juga mengembangkan pewarnaan alam untuk pembuatan pewarnaan tenun dan batik. Program zero waste menggunakan limbah kain yang dapat dari limbah pekerjaan furnitur.

Dampak pembangunan berkelanjutane

Perhimpunan LAWE memberikan pelatihan keterampilan terutama bagi perempuan, kelompok penenun, mahasiswa, anak-anak, dan orang-orang cacat, di berbagai daerah di Indonesia.

Pelatihan ini terdiri dari pembangunan sosial bisnis, teknik tenun dan peningkatan kualitas, desain dan pengembangan produk, teknik menjahit, dan pengembangan soft skill bagi anak-anak.

Pada 2015, LAWE Craft Kelas diadakan pelatihan bagi hampir 700 orang di seluruh Indonesia di perusahaan dengan berbagai lembaga, dari Sawah Lunto, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jakarta, Jember, Lombok Tengah, Pontianak, Palu, Sumba, ke Kupang dan banyak desa di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Skalabilitas

Upaya-upaya memulihkan dan mendorong kemandirian perempuan dan komunitas yang dilakukan oleh Lawe mendapatkan perhatian khusus dari beberapa pemerintah lokal di beberapa wilayah Indonesia. Mereka meminta Lawe untuk membantu menyebarkan pengetahuan mengenai pengembangan produk tenun di wilayah mereka, seperti di Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Molo, Amanatun, dan Amanuban (wilayah Nusa Tenggara Timur), Lombok (di wilayah Nusa Tenggara Barat), Kalimantan Barat, Belitung, dan beberapa wilayah lainnya di Pulau Jawa.

Selain itu, Lawe juga diberi kepercayaan oleh WWF Indonesia membantu meningkatkan kapasitas perempuan penenun dan pengolah limbah sampah di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Kelompok perempuan ini adalah kelompok perempuan adat Bajo yang hidup dalam rumah perahu. Pendampingan dilakukan oleh Lawe melalui beberapa proses pelatihan pengembangan produk dan membantu memberikan akses pemasaran.

Replikabilitas

Cara LAWE mereplikasi adalah bekerjasama dengan lembaga lain, terutama yang ada di luar daerah Yogyakarta. LAWE perlu menjalin kerjasama dengan lembaga lain karena tidak mungkin LAWE bekerja sendiri mewujudkan misi ke seluruh penjuru Indonesia yang sedemikian luas, ke ribuan suku yang memiliki kekayaan tenun tradisional. Misi LAWE adalah peningkatan kualitas tenun sebagai dasar pelestarian tenun Indonesia supaya bisa berlanjut dan dapat dipasarkan lebih luas lagi; kedua adalah pemberdayaan perempuan, dengan membuat pelatihan keterampilan yang dapat menjadi modal kerja perempuan. Berikut beberapa replikasi yang sedang dilaksanakan

1. Palu, Sulawesi Tengah : Program Peduli yang diampu oleh Indonesia untuk Kemanusiaan, operasional di lapangan bekerja sama dengan SKP-HAM.

2. Lombok Timur, NTB : berkerjasamadengan Div. Pengembangan Usaha Mikro dan Kecil Masyarakat, Bank Indonesia Mataram.
3. Mundon, Jawa Tengah : berkerjasama dengan mahasiswa Hiroshima University of Economics

Berbagi solusi ini:

 


 

Equator Blog

About Equator Initiative 

Contact Us

Follow Us: