Menghidupkan kembali aturan adat WEHAI

July 13, 2017

Indonesia Placeholder
Indonesia

Menghidupkan kembali aturan adat WEHAI

Tentang organisasi Pelaksana: 

Nama: Forum Nelayan Posa'asa

Negara: Indonesia

Tahun Didirikan: 2015

Jenis organisasi: Asosiasi atau organisasi berbasis komunitas / Status nirlaba yang diakui secara hukum / Kelompok atau organisasi adat

Deskripsi dan inovasi dari solusi

Penurunan sumberdaya perikanan juga terjadi di wilayah laut Kadie Liya. Berdasarkan penelusuran data PRA tahun 2014, terjadi penurunan hasil tangkapan ikan dibanding 10 tahun yang lalu. Diakui juga banyaknya nelayan luar yang mencari ikan di wilayah Kadie Liya menyebabkan adanya persaingan dalam mencari ikan.

Wehai adalah sistem pengelolaan sumberdaya laut pada kelompok masyarakat adat Liya, di Pulau Wangi-wangi. bentuknya berupa kawasan perlindungan lautatau meberlakukan larang tangkap pada pada wilayah tertentu dengan tujuan membuat ikan lebih banyak terkumpul. Umumnya Wehai diberlakukan di wilayah pesisir yang memiliki teluk atau diapit dua buah tanjung sebagai batas lokasi perlindungan. Arti Wehai sebagai etimologi adalah menandai, menyisihkan atau memesan sesuatu agar tidak diambil oleh orang lain.

Secara ringkas, Wehai merupakan sebuah kearifan masyarakat lokal di Liya Wakatobi sebagai keputusan adat yang melarang untuk mengambil sumberdaya di satu area tertentu di laut dalam kurun waktu tertentu untuk memberikan kesempatan alam untuk melakukan pemulihan kondisi sumberdaya. Forum Posa'asa ini salah satu tujuannya melakukan revitalisasi nilai-nilai adat yang selaras dengan alam dan mendapatkan tempat dalam tata pemerintahan negara Indonesia.

Elemen Alam

Lautan / Pantai / Margasatwa

Jenis Tindakan

Perlindungan / Restorasi / Penggunaan berkelanjutan / Akses dan pembagian keuntungan / Advokasi hak tanah & air

Elemen Pembangunan Berkelanjutan

Pekerjaan dan mata pencaharian / Ketahanan pangan / Tindakan iklim

Terkait Berkelanjutan Development Goal (s)

      

Dampak lingkungan

Sistem Wehai ini memberi kesempatan bagi terumbu karang dan ikan untuk berkembang seoptimal mungkin. Inisiatif ini juga mengurangi tekanan terhadap sumberdaya laut secara berlebihan. Bedanya sistem ini dengan sistem "sasi" adat lainnya adalah difokuskan dalam mengatur zonasi bukan hanya waktu untuk ditutup sementara.

Dampak pembangunan berkelanjutane

Sistem Wehai ini menjamin nelayan untuk selalu ada kesempatan bekerja dalam memanen dan mengolah hasil tangkapan yang dijaga keberadannya bersama-sama.

Sistem ini juga akan memperkuat katahanan pangan dengan selalu menjaga persediaan sumberdaya ikan bagi penduduk 5 desa Kadie Liya.

Skalabilitas

Sistem Wehai ini mudah dan sederhana untuk diterapkan. Pertama adalah perlu adanya aturan tertulis dari ketua dewan adat atau pimpinan daerah setempat dalam bentuk peraturan dewan adat atau peraturan desa. Dalam aturan tersebut disebutkan juga sanksi.

Bila pengakuan terhadap sistem pengelolaan adat secara mandiri telah dilakukan oleh pihak Taman Nasional, maka ini bisa menjadi pola alternatif yang efektif untuk melindungi kawasan-kawasan pusat sumberdaya laut, tidak hanya di Wakatobi, namun di kawasan konservasi lainnya.

Replikabilitas

Dengan kesederhanaan sistem dan efektfitas penerapannya, sistem serupa dapat diterapkan di lokasi lainnya di desa lain atau di komunitas nelayan lainnya di Indonesia maupun di negara lain.

Sistem kolaborasi ini adalah kerjasama antara adat, pemerintah daerah dan pemerintah pusat ITaman Nasional) dalam pengelolaan sumber daya alam dengan saling menghormati sistem yang telah ada dengan mengajak adat, pemerintah daerah, dan pusat untuk duduk bersama-sama membicarakan apa yang hendak dikelola pada wilayah-wilayah (hak ulayat) adat.

Berbagi solusi ini:

 


 

Equator Blog

About Equator Initiative 

Contact Us

Follow Us: