Pengeloaan pertanian lahan kering melalui Agroforestry dengan terassering dan budidaya lorong (alley cropping)

July 13, 2017

Indonesia Placeholder
Indonesia

Pengeloaan pertanian lahan kering melalui Agroforestry dengan terassering dan budidaya lorong (alley cropping)

Tentang organisasi Pelaksana: 

Nama: Pusat Studi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia

Negara: Indonesia

Tahun Didirikan: 1997

Jenis organisasi: Asosiasi atau organisasi berbasis komunitas

Deskripsi dan inovasi dari solusi

Kawasan Nusa Tenggara di Indonesia Timur, merupakan daerah beriklim kering. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani lahan kering, buruh tani dan hidup di bawah garis kemiskinan. Lahan kering yang mereka miliki sebagian besar bertopografi miring, tidak produktif, miskin unsur hara, erosi tinggi dan terletak di sekitar hutan. Lahan hanya bisa ditanami satu kali setahun. Pada saat lahan tidak produktif, masyarakat cenderung mengambil kayu di hutan untuk dijual. Aktifitas ini berdampak pada kerusakan hutan.

Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani lahan kering melalui diversifikasi lahan usahatani telah banyak dilakukan oleh penggiat LSM, akademisi maupun pemerintah. Tetapi upaya ini masih belum dapat meningkatkan pendapatan petani lahan kering secara maksimal. Pendapatan dan kualitas hidup mereka masih jauh tertinggal dibanding petani lahan basah yang menggunakan pertanian irigasi teknis.

Dari permasalahan tersebut, Prakarsa budidaya Gaharu pada lahan kering mulai diimplementasikan PSPSDM di Desa Penimbung 1997. Keberhasilan petani di desa tersebut dalam meningkatkan pendapatannya melalui panen gubal gaharu telah menginspirasi petani, kelompok tani dan organisasi lain untuk merepikasi program ini ke lokasi lain. Saat ini Penimbung menjadi "laboratorium lapangan" pengembangan Gaharu di lahan kering. PSPSDM merupakan lembaga pertama dan menjadi pioneer dalam mengembangkan budidaya gaharu pada lahan kering

Elemen Alam

Hutans / Pegunungan / Lahan kering

Jenis Tindakan

Perlindungan / Restorasi / Penggunaan berkelanjutan / Kesadaran dan pendidikan

Elemen Pembangunan Berkelanjutan

Pekerjaan dan mata pencaharian / Ketahanan pangan / Keamanan air / Pengurangan risiko bencana / Tindakan iklim

Terkait Berkelanjutan Development Goal (s)

          

Dampak lingkungan

a. Konservasi Lingkungan.a. Konservasi Lingkungan.Prakarsa telah berhasil merubah ratusan hektar lahan kering tidak produktif menjadi subur dan produktif. Terjadi peningkatan humus dan unsur hara tanah,  Prakarsa berdampak meminimalkan erosi dan bencana longsor bagi kelompok dampingan / penduduk yang tinggal di daerah pebukitan.

b. Perlindungan FloraPrakarsa telah berdampak pada pelestarian tanaman gaharu (Gyriinops cerspepgii).   Gaharu termasuk jenis tanaman langka (golongan appendix 2). Keberadaan gaharu di dalam kawasan hutan saat itu telah  mendekati kepunahan akibat penebangan liar. Melalui budidaya gaharu pada lahan milik petani di luar kawasan hutan, upaya pelestarian tanaman gaharu lebih dapat dipertahankan.

c. Perlindungan Fauna / SatwaMelalui rehabilitasi lahan kritis milik masyarakat yang ada di sekitar hutan dapat memperbaiki ekosisitem hutan.  Kondisi ini dapat memberikan perlindungan yang lebih baik bagi satwa yang ada, termasuk dapat memulihkan kembali habitat satwa yang rusak.

Dampak pembangunan berkelanjutane

1. Perlindungan Kawasan Hutan.

Promosi penanaman berbagai jenis tanaman kehutanan pada lahan usahatani milik masyarakat telah membuahkan hasil. Saat ini masyarakat sudah dapat memenuhi kebutuhan kayu dari lahan usata tani mereka sendiri. Seiring dengan meningkatnya kesuburan lahan dan pendapatan mereka, maka tekanan terhadap kawasan hutan dapat diminimalkan.

Tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk memelihara ekosistem hutan sebagai sumber air bagi kehidupan, telah meningkatkan partisipasi untuk melindungi kawasan hutan dari perusakan oleh masyarakat dari luar desa mereka.

2. Iklim :
Prakarsa mempengaruhi perubahan iklim mikro di sekitar lokasi Prakarsa, dari yang sebelumnya kering menjadi lebih sejuk / lembab.

3. Ketahanan Pangan
Pengelolaan pertanian berkelanjutan di lokasi Prakarsa diterapkan, telah meningkatkan ketahanan pangan kelompok dampingan masyarakat

 

Skalabilitas

Prakarsa telah berhasil menstransfer pengetahuan inovasi budidaya gaharu lahan kering, dari hanya 2 orang di satu desa (Penimbung) pada awal tahun 2017, saat ini telah berkembang ke 14 desa yang ada di 4 kabupaten (yaitu Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Timur di Pulau Lombok dan Kabupaten Bima di Pulau Sumbawa) dan 2 pulau. Jumlah penerima manfaat berkembang dari 2 keluarga tani menjadi 568 keluarga tani. Jumlah luas lahan dampingan berkembang dari 2 hektar menjadi 497 hektar.
Petani di lokasi Prakarsa menjadi kader handal yang siap menyebarluaskan inovasi ini kepada masyarakat yang lebih luas di tingkat regional maupun nasional

Replikabilitas

Penyebarluasan informasi pengetahuan pengeloaan budidaya gaharu di lahan kering di tingkat nasional dilakukan selain melalui promosi demoplot yang ada, juga dilakukan melalui pengembangan media informasi berupa booklet dan bulletin yang dikembangkan PSPSDM, dan telah disebarkan kepada masyarakat, dinas pemerintah terkait, swasta, organisasi nirlaba, dan disebarkan kepada peserta kegiatan pada skala nasional yang diikuti oleh PSPSDM.

Penyebarluasan informasi pengetahuan juga dilakukan melalui koran dan penerbitan buku. GEF-SGP dan Ashoka Indonesia menerbitkan buku yang antara lain berisi pengetahuan pengelolaan budidaya gaharu pada lahan kering oleh PSPSDM. Saat ini budidaya gaharu telah menjadi berita booming di kawasan Asia Tenggara dan Indho China.

Berbagi solusi ini:

 


 

Equator Blog

About Equator Initiative 

Contact Us

Follow Us: