Penyelamatan sumber resapan air dengan menjaga hutan

July 13, 2017

Indonesia Placeholder
Indonesia

Penyelamatan sumber resapan air dengan menjaga hutan

Tentang organisasi Pelaksana: 

Nama: LMDH Alam Lestari Dieng

Negara: Indonesia

Tahun Didirikan: 1999

Jenis organisasi: Asosiasi atau organisasi berbasis komunitas / Status nirlaba yang diakui secara hukum / Usaha atau usaha masyarakat / Public-private partnership / Asosiasi atau organisasi perempuan / Kelompok atau asosiasi pemuda

Deskripsi dan inovasi dari solusi

Desa Dieng merupakan Hulu DAS serayu, dengan 6 anak sungai dan 29 mata air dimana didalamnya terdapat kawasan hutan seluas 181,000 ha. Pada kurun waktu 1999 – 2004, terjadi alih fungsi lahan hutan menjadi pertanian yang berdampak pada hilangnya 6 mata air dan menunrunnya debit air pada 23 sumber mata air di Dieng. Air bersih menjadi sulit diperoleh saat musim kemarau dan masyarakat harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal untuk mengambil air dari desa lain. Namun sebaliknya pada musim hujan, karena air tidak mampu diserap oleh hutan dan tanah, banjir dan tanah longsor kerap terjadi.

Dengan anggota awal 19 orang, LMDH Alam Lestari berusaha meningkatkan kesadaran warga desa akan pentingnya menjaga keberadaan hutan sebagai pelindung terjadinya bencana. Selain penanaman di Lahan-lahan yang curam, LMDH menerapkan system tumpangsari tanaman kentang dengan pohon buah carica dan terong belanda di bagian pematang. Selain untuk mengurangi resiko tanah longsor, buah carica dan terong belanda memberikan tambahan penghasilan bagi petani tanpa mengurangi tingkat produktivitas Lahan.

Elemen Alam

Hutans / Pegunungan / Sungai / Lahan kering

Jenis Tindakan

Perlindungan / Restorasi / Akses dan pembagian keuntungan

Elemen Pembangunan Berkelanjutan

Pekerjaan dan mata pencaharian / Keamanan air / Pengurangan risiko bencana

Terkait Berkelanjutan Development Goal (s)

      

Dampak lingkungan

Reboisasi telah dilakukan pada lahan seluas 73 ha melibatkan laki-laki dan perempuan termasuk kelompok pemuda. Umumnya suatu progam, misal penghijauan atau rehabilitasi lahan kritis, diimplementasikan secara top-down tanpa melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan. Masyarakat yang terlibat biasanya hanya diberikan upah tanam pohon saja. Rasa memiliki (ownership) menjadi sulit dibangun bahkan tidak ada.

LMDH menerapkan pendekatan bottom-up dalam upaya mengatasi permasalahan lingkungan yang ada di desa. Masyarakat diajak untuk peduli dan sepakat terhadap permasalahan yang akan diatasi dan menentukan solusi sesuai dengan kapasitas dan sumberdaya yang dimiliki masyarakat. Sumber mata air yang ada dapat dijaga dan dipertahankan debit airnya. Elang Jawa yang termasuk hewan langka menjadi lebih sering ditemui, demikian juga dengan jenis burung yang lain. Masyarakat dapat memahami manfaat lingkungan, social dan ekonomi dari praktek konservasi Lahan dan pertanian yang ramah lingkungan.

Dampak pembangunan berkelanjutane

Pendekatan yang dilakukan juga menawarkan insentif langsung bagi masyarakat yang terlibat sebagai bentuk penghargaan terhadap kepedulian dan waktu luang yang telah dialokasikan. Kegiatan rehabilitasi lahan dan perubahan pola tanam dilakukan dengan kesadaran sendiri. Pengenalan usaha ekonomi produktif seperti pengolahan buah carica, sirup terong belanda dan pengelolaan jasa wisata menjadi insentif program. LMDH telah berkontribusi dalam penyediaan lapangan kerja baru, pengentasan kemiskinan, meningkatkan akses perempuan terhadap sumber daya alam dan lapangan pekerjaan dan dalam waktu yang bersamaan menjaga dan memperbaiki lingkungan alamnya.

Pengelolaan jasa wisata oleh LMDH membuktikan pentingnya menjaga kekayaan alam yang ada di desa. Tanggung jawab menjaga hutan dan lingkungan tidak lagi menjadi beban masyarakat setempat karena lingkungan alam yang baik juga bermanfaat dalam mengatasi masalah kemiskinan dan kesenjangan lapangan pekerjaan.

Skalabilitas

Intervensi dilakukan pada tingkat desa, dimulai dari penanaman pohon di lahan milik anggota LMDH seluas 4 ha dan kemudian ditingkatkan menjadi 73 ha dengan pelibatan Perum Perhutani (stated own forest management company). Jumlah masyarakat yang terlibat naik dari 19 orang menjadi 96 orang termasuk perempuan dan pemuda. Kios oleh-oleh sebagai penunjang pengembangan ekowisata di ‘Petak 9’ dari tidak ada menjadi 70 kios dan telah menumbuhkan industry rumah tangga pengolahan buah carica dan terong belanda yang menyerap 462 tenaga kerja.

Saat ini jumlah lahan kritis di Indonesia diperkirakan seluas 27 juta ha dan kemampuan pemerintah untuk merhabilitasi lahan kritis hanya 500,000 ha per tahun. Partisipasi mayarakat sangat dibutuhkan. Model LMDH dapat menjadi referensi untuk diterapkan di daerah yang karakteristiknya hampir sama. Pemerintah dapat menjadikan program pendampingan sebagai kunci keberhasilan program perbaikan lingkungan dan ehabilitasi lahan yang memperhatikan kesejahteran.

Replikabilitas

Desa Dieng terletak di wilayah Sub DAS Tulis di Propinsi Jawa Tengah. Sub DAS Tulis yang luasnya sekitar 13 ribu ha merupakan kawasan lindung Dataran Tinggi Dieng. Topografi curam (kemiringan lebih dari 40%) dan curah hujan > 3,000 mm/tahun. Luas tutupan hutan hanya 1.46%, mayoritas berupa lahan hortikultura (70%). Kepadatan penduduk rata-rata 100 jiwa/km² dengan pemilikan lahan sebesar 0,1 ha/keluarga.

Prakarsa dapat direplikasi untuk kelompok tani lain di Desa Dieng dan desa lain di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Konservasi tanah, peningkatan tutupan hutan untuk perlindungan sumber mata air dan pengurangan resiko bencana serta mekanisme insentif ekonomi menjadi 3 hal praktek terbaik yang dapat direplikasi. Dalam jangka panjang, kualitas ekosistem di Dieng dapat ditingkatkan, kemiskinan dapat dikurangi dengan penyediaan lapangan pekerjaan, kelompok perempuan dapat lebih diberdayakan serta pemuda dapat lebih aktif sebagai agen pembangunan di desanya.

Berbagi solusi ini:

 


 

Equator Blog

About Equator Initiative 

Contact Us

Follow Us: