Solusi berdampak lingkungan pesisir

July 13, 2017

Indonesia Placeholder
Indonesia

Solusi berdampak lingkungan pesisir

Tentang organisasi Pelaksana: 

Nama: Kelompok Perempuan Nelayan Muara Tanjung

Negara: Indonesia

Tahun Didirikan: 2005

Jenis organisasi: Asosiasi atau organisasi berbasis komunitas / Bisnis koperasi

Deskripsi dan inovasi dari solusi

Sejak adanya pemanfaatan mangrove dengan mengelolanya sebagai sarana produksi dan wisata edukasi telah berdampak pada perubahan pola pikir masyarakat yang tidak lagi menebang hutan mangrove. Inisiatif ini menjadi salah satu model pengelolaan wisata di Kabupaten Serdang Bedagai karena kegiatan pemanfaatan mangrove ini menginspirasi masyarakat pesisir lainnya. Pulihnya hutan mangrove juga berdampak terhadap penghasilan nelayan, hasil tangkapan nelayan yang dulunya jauh berkurang dan harus menangkap ikan dilokasi yang jauh ketengah lautan saat ini sudah berubah, masyarakat nelayan desa sei.nagalawan yang mayoritas nelayan tradisional cukup menangkap ikan dipinggiran pantai dan tidak harus jauh ketengah lautan lagi.
Muara Tanjung juga menginisiasi lahirnya koperasi Serba Usaha (KSU) Muara Baimbai yang memiliki berbagai unit-unit usaha seperti pengolahan makanan mangrove, usaha jual beli hasil tangkapan nelayan, rumah makan ala sea food, usaha wisata mangrove telah mampu memperbaiki perekonomian nelayan yang saat ini beranggotakan 70 KK. Sebelum pulihnya hutan mangrove dikawasan Desa Sei Nagalawan penghasilan rata-rata penduduknya hanya berkisar Rp.30.000/hari akan tetapi pasca pulihnya hutan mangrove jika dirata-ratakan maka penghasilan nelayan saat ini sudah mencapai Rp.50.000/hari.

Elemen Alam

Hutans / Lautan / Pantai

Jenis Tindakan

Perlindungan / Penggunaan berkelanjutan / Pencegahan polusi, bersihkan

Elemen Pembangunan Berkelanjutan

Pekerjaan dan mata pencaharian / Ketahanan pangan / Tindakan iklim

Terkait Berkelanjutan Development Goal (s)

        

Dampak lingkungan

Hutan mangrove yang dikelola kelompok perempuan nelayan Muara Tanjung seluas 7ha pada awalnya lahan kritis yang kemudian berubah menjadi hutan mangrove yang saat ini menjadi objek wisata. Dapat dipastikan pula bahwa dengan kembalinya habitat mangrove tersebut mampu menahan abrasi dan mengurangi resistensi gelombang laut dipesisir pantai bertambahnya daratan pantai, kembalinya habitat ikan yang mampu menambah penghasilan keluarga nelayan, hutan juga dikelola oleh kelompok perempuan muara tanjung sebagai bahan makanan dan minuman yang dijual dan dipasarkan sekaligus promosi lingkungan dan peran penting keberadaan hutan mangrove. Abrasi pantai yang menghantam kawasan pesisir pantai desa Sei.Nagalawan pada dekade tahun 90-an telah mampu diatasi dengan berkurangnya abrasi. Hutan mangrove juga berfungsi untuk mengatasi pemanasan global dan mengurangi dampak perubahan iklim sehingga upaya pelestarian ini harus terus dilakukan karena bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya khususnya nelayan.

Dampak pembangunan berkelanjutane

Dasar kemandirian ekonomi sudah ada yakni dengan Usaha Bersama Simpan Pinjam dan koperasi sembako. Didalam perjalanannya kemudian melalui sebuah P3MN Medan, sebuah LSM yang mendampingi Kelompok Perempuan Muara Tanjung dan juga didukung oleh GEF SGP memberikan dukungan untuk kegiatan rehabilitasi tanaman pantai dan pengembangan kuliner berbahan baku mangrove pada tahun 2011. Disusul kemudian pada tahun 2013 kelompok Perempuan Muara Tanjung bekerjasama secara langsung dengan GEF SGP melalui program pengelolaan hutan mangrove sebagai sarana produksi dan wisata edukasi. Untuk rencana keberlanjutan dari usaha wisata edukasi mangrove akan dikelola oleh anggota dengan 80% untuk kas kelompok, 20 persen untuk kegiatan pemeliharaan fasilitas infrastruktur wisata. Usaha kuliner makanan berbahan mangrove 95 persen keuntungan untuk kesejahteraan anggota, 5 persen untuk kegiatan konservasi. Untuk meningkatkan wisatawan kelompok akan menambah berbagai fasilitas ada mengefektifkan promosi.

Skalabilitas

Sebelumnya, mangrove hanya dikenal sebagai bahan kayu bakar dan bahan bangunan, akan tetapi seiring berjalannya inisiatif yang dilakukan kelompok perempuan muara tanjung akhirnya mampu mendorong munculnya SK Kepala Desa untuk memproteksi wilayah hutan yang ada di desa Sei Nagalawan. Hutan Mangrove juga dikelola sebagai sarana wisata dan diolah hasilnya menjadi berbagai makanan dan minuman berbahan baku mangrove, prosesi ini kemudian semakin memperkuat dan menyakinkan semua pihak dan membuka wacana berpikir masyarakat lokal dan disekitar wilayah lainnya di luar desa. Desa-desa tetangga yang juga komunitas nelayan belajar bagaimana inisiatif awal ini mampu mengubah dan merestrorasi lahan yang rusak. Inisiatif ini mengundang berbagai instansi pemerintah dari daerah lain untuk studi banding ketempat ini. Mereka melatih komunitas perempuan nelayan di kecamatan Pantai Cermin dan teluk mengkudu bahkan melatih komunitas perempuan di wilayah Aceh di kelompok Teubina Berjaya, Kab.Aceh Tamiang.

Replikabilitas

Awalnya kegiatan Muara Tanjung dilakukan secara swadaya dengan semangat kemandirian masyarakat nelayan yang selama ini tergantung kepada tengkulak dan tidak memiliki sumber mata pencaharian alternatif. Sehingga didalam perjalanannya, kelompok ini mulai mendapatkan bibit mangrove dari LSM dan Pemerintah. Tahun 2010, P3MN mengajak Muara Tanjung untuk menjalankan program yang didukung GEF SGP. P3MN berperan untuk memperluas jaringan dan penguatan kapasitas. P3MN mendorong peningkatan kapasitas dalam usaha kuliner berbahan mangrove. Hasil dari program dukungan ini menjadi modal Muara Tanjung untuk meningkatkan usaha kuliner berbasiskan konservasi mangrove sehingga pada tahun 2013 GEF SGP kembali mendukung mereka menjadi pelaksana utama proyek. Muara Tanjung mendapatkan dukungan permodalan usaha untuk pengolahan makanan dari mangrove, pengadaan bibit dan tanaman pantai dengan jumlah yang terbatas, pengadaan alat pengolahan makanan, brosur, leaflet, sewa kios sebagai pusat promosi wisata.

Berbagi solusi ini:

 


 

Equator Blog

About Equator Initiative 

Contact Us

Follow Us: