Solusi Perubahan Iklim

July 13, 2017

Indonesia Placeholder
Indonesia

Solusi Perubahan Iklim

Tentang organisasi Pelaksana: 

Nama: Yayasan Tafean Pah

Negara: Indonesia

Tahun Didirikan: 1990

Jenis organisasi: Asosiasi atau organisasi berbasis komunitas / Asosiasi atau organisasi perempuan / Kelompok atau organisasi adat

Deskripsi dan inovasi dari solusi

Tafean Pah dalam menjalankan dan menyebarkan inisiatifnya menggunakan pendekatan budaya dan kearifan lokal yang berlaku di masyarakat adat Biboki. Masyarakat adat Biboki memiliki tiga dimensi utama pembangunan berkelanjutan antara lain lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi. Proses penyadaran masyarakat akan lebih mudah jika sejalan dengan adat yang berlaku di wilayah Biboki. Pada umumnya di Timor, setiap suku memiliki sumber mata air yang di sebut dengan Oe leu (air suci ). Air suci tersebut dilindungi dan dijaga oleh masing-masing suku karena mereka percaya bahwa apabila mata air itu kering maka akan terjadi malapetaka bagi suku yang bersangkutan. Oleh karena itu, masyarakat sangat menghormati dan melindungi air suci dengan penghijauan dengan melakukan berbagai penanaman seperti pinang, kelapa, mahoni, sukun, dll. Pendekatan tersebut digunakan oleh Tafean Pah untuk melakukan proses penyadaran masyarakat untuk menjaga mata air, danau, sungai, dan hutan-hutan di wilayah tersebut. Saat ini, Tafean Pah bersama dengan masyarakat adat Biboki melakukan perlindungan pada sumberdaya alam yang memiliki air yang mengandung lumpur. Lumpur tersebut dimanfaatkan untuk menghasilkan warna hitam untuk benang yang akan digunakan dalam proses tenun. Tafean Pah juga menggunakan pendekatan adat untuk menjaga hutan guna mendapatkan madu. Madu tersebut dibagikan secara adil kepada semua anggota suku.

Elemen Alam

Hutans / Lahan kering

Jenis Tindakan

Perlindungan / Penggunaan berkelanjutan / Akses dan pembagian keuntungan / Kesadaran dan pendidikan / Advokasi hak tanah & air

Elemen Pembangunan Berkelanjutan

Pekerjaan dan mata pencaharian / Ketahanan pangan / Keamanan air / Tindakan iklim

Terkait Berkelanjutan Development Goal (s)

      

Dampak lingkungan

Inisiatif Tafean Pah melalui tenun tradisional berdampak mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim. Inisiatif ini sejalan dengan kearifan lokal yang dipercayai oleh masyarakat adat Biboki. Adat Biboki merupakan suatu holistis yag kukuh antara manusia, alam natural, dan alam supranatural (Mis’okan). Mereka percaya bahwa mereka tidak akan berhasil dalam hidup jika tidak menjaga keseimbangan ketiga unsur tersebut. Inisiatif yang dilakukan Tafean Pah, berusaha menjaga keseimbangan tersebut. Menenun dengan menggunakan kapas dan pewarna alam, serta menggunakan pupuk alami dapat mengembalikan keseimbangan alam. Tidak banyak zat kimia yang digunakan dalam proses pewarnaan tenun. Pewarna kimia dapat mencemari air tanah dan tanah di wilayah tersebut. Juga merusak kesehatan perempuan penenun.

Dampak pembangunan berkelanjutan

Tafean Pah menghidupkan kembali kebiasan menanam kapas dan menghambur biji tarum pada saat selesai hujan pertama pertanda dimulainya musim hujan. Tanaman kapas dan biji tarum adalah jenis tanaman lokal dan biasanya di tanam bersama tanaman lainya di kebun. Desa-desa adat yang didampingi oleh Tafean Pah membuat beberapa kebun contoh untk penanaman kapas dan bahan pewarna alam ( tanaman Mengkudu digunakan sebagai warna coklat, Kaktus untuk warna merah jambu , Tarum untuk warna biru , daun kacang hutan atau daun suji untuk warna hijau, kunyit untuk warna kuning, serta tumbuhan lain untuk dibuatkan sebagai tannin).Tafean Pah juga melakukan konservasi lahan kritis seluas 50 ha dengan menggunakan tanaman lamtoro sebagai pakan ternak. Tafean Pah juga melakukan penanaman dipinggiran danau yang memiliki bahan lumpur yang digunakan sebagai pewarna alam untuk warna hitam

Skalabilitas

Inisiatif Tafean Pah dengan menggunakan kapas dan pewarna alam dalam menenun mulai diturunkan kepada generasi muda dan anak-anak sekolah. Pendidikan menenun telah menjadi salah satu bahan pembelajaran di sekolah-sekolah di Timor Tengah Utara, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Sejak tahun 2009, setiap bulan Juni, kelompok pencinta tenun dari negara Australia dan Belanda rutin datang ke Tafean Pah untuk melihat koleksi kain tenun yang dihasilkan dan mengikuti pelatihan proses membuat warna alam di desa dampingan Tafean Pah (Desa Sainiup). Berbagai kegiatan yang diikuti mulai di dalam negeri hingga ke luar negeri.

Bersama dengan GEF SGP Indonesia, Tafean Pah dan Lawe (mitra dari Yogyakarta) mencoba mempengaruhi penilaian masyarakat awam terhadap nilai dari tenun tradisional melalui program Weaving for Life. Program ini bermain ditataran nasional guna mempengaruhi kebijakan terhadap peranan perempuan khususnya peranan perempuan di timur Indonesia yang termarjinalkan.

Replikabilitas

Tafean Pah bermitra dengan GEF- SGP dan Terasmitra (sebuah jaringan pemasaran bersama dan pengembangan kapasitas kelompok komunitas yang peduli pada lingkungan yang dikembangkan oleh GEF SGP Indonesia (Global Environment Facility – Small Grant Programme) dalam program pengembangan kearifan lokal pada masyarakat adat Biboki melalui pembuatan kain tenun tradisional dari bahan benang di pintal tangan dan pengembangan tanaman pewarna alam. Tafean Pah bermitra dengan beberapa sekolah di wilayah tersebut untuk melatih generasi muda mencintai tenun tradisional yang menggunakan kapas dan pewarnaan alam. Delapan puluh (80) anak aktif mengikuti kegiatan tersebut. Sangat diharapkan pemerintah dapat memasukan hal tersebut dalam kurikulum sekolah dalam kategori muatan lokal.

Berbagi solusi ini:

 


 

Equator Blog

About Equator Initiative 

Contact Us

Follow Us: