
Indonesia
About the Implementing organization
KeSEMaT
Country: Indonesia
Year of establishment: 2001
Type of organization: Komunitas berbasis asosiasi atau organisasi, Kelompok atau asosiasi pemuda
Website: https://kesemat.or.id
Description
KeSEMaT memiliki misi dan tujuan mengembangkan penelitian tentang ekosistem mangrove di kalangan mahasiswa, menumbuhkan dan meningkatkan rasa cinta mangrove di kalangan anggotanya, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya, serta mewujudkan dan mengembangkan kegiatan yang bersifat ilmiah dan mengarah kepada konservasi ekosistem mangrove, dengan motto "konservasi, penelitian, kampanye, pendidikan dan dokumentasi mangrove untuk generasi mendatang."Sebagai organisasi mahasiswa, sesuai dengan motonya, KeSEMaT memfokuskan dirinya dalam kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, kampanye dan dokumentasi mangrove yang diimplementasikan dalam program-program pengajaran, penyuluhan, pembibitan, penanaman dan pemeliharaan mangrove serta pemberdayaan masyarakat pesisir. Konsep pembelajaran KeSEMaT yang unik, yaitu dengan program kampanye mangrovenya di internet, melalui Jaringan KeSEMaTONLINE-nya yang beralamat di www.kesemat.or.id, telah menjadikan kampanye mangrove di Indonesia menjadi sangat efektif. Kelompok mahasiswa ini telah berhasil membangun sebuah portal mangrove yang menjangkau masyarakat di seluruh dunia. Kualitas program mangrove KeSEMaT terbukti sangat baik sehingga telah menembus batas “nicheâ€- nya sebagai mahasiswa. Hal ini dibuktikan dengan berhasilnya dan dipercayainya organisasi mahasiswa di bawah Jurusan Ilmu Kelautan UNDIP Semarang ini, bermitra dengan beberapa dinas, LSM bahkan kementerian di tingkat nasional serta organisasi dari dalam dan luar negeri yang menjadikan KeSEMaT sebagai organisasi mahasiswa, yang memiliki mitra kerja yang luas. Organisasi mahasiswa ini, telah berhasil menulis tiga buah buku mangrove, yaitu Panduan Praktis Teknik Rehabilitasi Mangrove di Pesisir Indonesia dan Beragam Bahan Olahan Berbahan Baku Mangrove serta 20 Dongeng Mangrove, hasil kerjasama mereka dengan dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Jakarta, Mangroves For the Future (MFF) Thailand dan International Union for Conservation and Nature (IUCN) Swiss. Buku ini, telah dijadikan semacam "rujukan" bagi para penggiat mangrove tak hanya di Jawa Tengah saja, tetapi di Indonesia, karena telah didistribusikan secara luas melalui forum-forum mangrove, seperti Kelompok Kerja Mangrove Kota Semarang (KKMKS), Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Jawa Tengah dan Kelompok Kerja Mangrove Nasional (KKMN) di Jakarta. Yang menarik adalah, buku mengenai pengolahan bahan makanan dan minuman dari mangrove ini, juga merupakan sebuah inovasi dan upaya KeSEMaT dalam rangka mempopulerkan kembali mangrove kepada masyarakat luas, melalui konsep wirausaha pemanfaatan buah-buahan mangrove untuk makanan, minuman, sabun, kerajinan batik, dan lain-lain untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, terutama di wilayah pesisir.KeSEMaT memiliki program kerja mangrove kurang lebih 30 buah dalam jangka waktu satu tahun, yang mereka kerjakan dengan konsep swadaya (voluntary) dan kontinyu mulai dari tahun 2001 hingga sekarang. Secara rutin, mereka menyelenggarakan dan mengikuti program pendampingan, penyuluhan, pelatihan, seminar dan kampanye mangrove tingkat regional hingga nasional ke berbagai level masyarakat, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, dinas, LSM bahkan kementerian di tingkat nasional dan internasional. KeSEMaT memiliki kurang lebih 35 mitra kerja yang terdiri dari LSM, dinas pemerintahan, swasta, perguruan tinggi, kementerian dan institusi mangrove internasional dari luar negeri.Saat ini, organisasi mangrove yang dikelola oleh mahasiswa ini, memegang peranan yang sangat strategis di tiga forum mangrove pemerintah, yaitu di tingkat kota (KKMKS), provinsi (KKMD Jawa Tengah) dan pusat (KKMN).
Nature Element
Hutan︱Laut dan pantai
Type of Action
Perlindungan ekosistem︱Restorasi ekosistem︱Penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan︱Pengaruh terhadap kebijakan
Sustainable Development Element
Pekerjaan dan mata pencaharian︱Keamanan pangan︱Pendidikan︱Komunitas yang berkelanjutan dan pengurangan resiko bencana
Environmental Impacts
KeSEMaT berhasil menghijaukan kembali kurang lebih 1 ha lahan mangrove gundul di pesisir pantai Desa Teluk Awur, Jepara melalui program penanaman dan pemeliharaan mangrove secara kontinyu dengan kelulushidupan mencapai 90%, di setiap tahunnya, mulai dari tahun 2003 sampai dengan sekarang. Selama kurun waktu 2003 sampai dengan 2016 ini, maka KeSEMaT telah menanam kurang lebih 100.000 bibit mangrove di berbagai pesisir di Jawa, dengan tingkat kelulushidupan cukup tinggi, yaitu rata-rata 80%. KeSEMaT berkontribusi nyata dalam turut serta menjaga keanekaragaman hayati flora dan fauna mangrove, dengan berbagai program kerja mangrovenya, sesuai dengan motonya di atas. Salah satu contohnya adalah, beberapa jenis mangrove yang dulunya tidak ditemukan di Teluk Awur, Jepara, yaitu Bruguiera gymnorrizha, kini bisa ditemukan di sana setelah mereka berhasil mendatangkan dan mengkayakannya dari Bali.
CLIMATE IMPACTS
Hutan mangrove adalah hutan yang paling banyak menyerap karbon di bumi. KeSEMaT berhasil menumbuhkan beberapa jenis mangrove, seperti Rhizophora dan Ceriops di lahan yang dulunya gundul, telah berhasil menjadi tempat hidup beragam fauna mangrove, seperti kerang, ikan, burung migran, kepiting, udang dan lain-lain. Pengkayaan spesies yang telah dilakukan KeSEMaT ini, sebagai perwujudan dari upaya mereka dalam aksi nyata penyelamatan jenis dan keanekaragaman hayati di bumi. Berkat MECoK pula, maka saat ini, kondisi vegetasi mangrove di Teluk Awur termasuk dalan vegetasi mangrove yang baik. Kawasan mangrove yang ada di Teluk Awur ini memiliki tingkat keanekaragaman jenis flora mangrove yang beragam, ini terbukti dari banyaknya spesies mangrove yang ditemukan dari komponen mayor, minor dan asosiasi. Ekosistem mangrove Teluk Awur berdasarkan pengamatan lapangan (2012), ditemukan 27 jenis flora mangrove yang terdiri dari 11 komponen mayor, 4 komponen minor dan 12 komponen asosiasi.
Sustainable Development Impacts
KeSEMaT mempunyai program-program yang baik di mata masyarakat umum. Melihat antusias dari berbagai kalangan, pada tahun 2009 KeSEMaT mendirikan KeMANGTEER (KeSEMaT Mangrove Volunteer) untuk memperluas gerakan kepedulian terhadap pelestarian Mangrove. Hingga saat ini, KeMANGTEER memiliki 12 Regional diantaranya; Bengkalis, Dumai, Jakarta, Jogjakarta, Karawang, Langsa, Luwuk, Malang, Medan Semarang, Serang, dan Tangerang. Pada tahun yang sama KeSEMaT mendirikan yayasan IKAMaT (Yayasan Inspirasi Keluarga KeSEMaT) yang bertujuan untuk menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan, pembinaan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat pesisir dalam bidang pelestarian ekosistem mangrove dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Pada tahun 2011, KeSEMaT mengembangkan perusahaan jasa dan produk mangrove, bernama CV. KeSEMaT Mangrove Indonesia (KeMANGI) dengan tujuan rehabilitasi kawasan.
RESILIENCE, ADAPTABILITY, AND SELF-SUFFICIENCY
KeSEMaT berhasil meningkatkan taraf hidup dan mata pencaharian Ibu-ibu istri nelayan di Mangkang Wetan, dengan membentuk kelompok batik dan jajanan mangrove. Saat ini, Ibu-ibu warga binaannya tersebut meningkat pendapatannya dengan berjualan batik dan jajanan mangrove serta sering diundang menjadi pembicara workshop mangrove oleh pemerintah maupun non pemerintah di Jawa maupun luar Jawa. Selain tetap menjaga kontinuitas program pemeliharaan MECoK di Jepara dan terus mengembangkan industri kreatifnya, saat ini, KeSEMaT juga sedang menggodok, konsep Sertifikat Keahlian untuk Tenaga Ahli dan Pelaksana Proyek Mangrove untuk meminimalisir kegagalan proyek rehabilitasi mangrove yang semakin marak di Indonesia. Hebatnya lagi, kampanye Sertifikasi Mangrove Safe KeSEMaT yang dipergunakan sebagai sebuah jaminan bagi perusahaan pertambakan terutama udang agar mau dan mampu melindungi daerah mangrove-nya, merupakan ide kreatif dan inovatif yang juga telah berhasil "diadopsi" ke tingkat nasional.Keberhasilan KeSEMaT dalam mendirikan area konservasi dan pendidikan mangrove mereka di lahan yang dulunya gundul dengan usaha swadaya anggota mereka, yang diberi nama Mangrove Education Center of KeSEMaT (MECoK), membuktikan bahwa dampak kegiatan mangrove KeSEMaT sangat baik bagi kawasan pesisir, terutama di desa Teluk Awur. Sebelum adanya MECoK, abrasi sering terjadi di pantai tersebut, yang saat ini sudah mulai bisa dicegah dan diminimalisir. Mangrove yang saat ini tumbuh kurang lebih sembilan meter, berhasil menjadi penghalang-abrasi-alami yang sempurna, serta mampu memulihkan kondisi ekologis vegetasi mangrove di pesisir pantai Teluk Awur. Kesuksesan KeSEMaT mengelola MECoK pada akhirnya membuat pemerintah kabupaten Jepara menetapkan kawasan tersebut sebagai salah satu hutan kota di Jepara, yang tentunya merupakan pencapaian yang luar biasa bagi KeSEMaT dalam menjaga keanekaragaman hayati, terutama hutan mangrove di kawasan Jepara. Bersama dengan mitra kerjanya, baik pemerintah maupun swasta di Semarang, KeSEMaT juga telah melakukan program kemitraan berkonsep pemberdayaan masyarakat. Sebuah konsep pembangunan kebun bibit mangrove dengan tujuan untuk implementasi program pemeliharaan mangrove yang belum dilakukan di Semarang, sebagai hasil dari proses adopsi dari konsep mereka membangun MECoK di Jepara, terbukti berhasil merubah persepsi masyarakat mengenai teknik rehabilitasi mangrove yang selama ini dijalankan di Semarang.
REDUCED INEQUALITIES
Keberhasilan KeSEMaT dalam mendirikan area konservasi dan pendidikan mangrove mereka di lahan yang dulunya gundul dengan usaha swadaya anggota mereka, yang diberi nama Mangrove Education Center of KeSEMaT (MECoK), membuktikan bahwa dampak kegiatan mangrove KeSEMaT sangat baik bagi kawasan pesisir, terutama di desa Teluk Awur. Sebelum adanya MECoK, abrasi sering terjadi di pantai tersebut, yang saat ini sudah mulai bisa dicegah dan diminimalisir. Mangrove yang saat ini tumbuh kurang lebih sembilan meter, berhasil menjadi penghalang-abrasi-alami yang sempurna, serta mampu memulihkan kondisi ekologis vegetasi mangrove di pesisir pantai Teluk Awur. Kesuksesan KeSEMaT mengelola MECoK pada akhirnya membuat pemerintah kabupaten Jepara menetapkan kawasan tersebut sebagai salah satu hutan kota di Jepara, yang tentunya merupakan pencapaian yang luar biasa bagi KeSEMaT dalam menjaga keanekaragaman hayati, terutama hutan mangrove di kawasan Jepara. Bersama dengan mitra kerjanya, baik pemerintah maupun swasta di Semarang, KeSEMaT juga telah melakukan program kemitraan berkonsep pemberdayaan masyarakat. Sebuah konsep pembangunan kebun bibit mangrove dengan tujuan untuk implementasi program pemeliharaan mangrove yang belum dilakukan di Semarang, sebagai hasil dari proses adopsi dari konsep mereka membangun MECoK di Jepara, terbukti berhasil merubah persepsi masyarakat mengenai teknik rehabilitasi mangrove yang selama ini dijalankan di Semarang.
GENDER EQUALITY
KeSEMaT berhasil merubah persepsi masyarakat pesisir yang menganggap mangrove tak berguna, dengan cara membentuk empat warga binaan dan berhasil menciptakan lapangan pekerjaan bagi Ibu-ibu istri nelayan, yang pada awalnya tidak bekerja, saat ini di tahun 2015 menjadi pengrajin batik mangrove dan jajanan mangrove. Dengan bekerja sama dengan CSR perusahaan, KeSEMaT juga memberikan mata pencaharian tambahan kepada Bapak-bapak nelayan tambak, yaitu sebagai petani mangrove, yang saat ini bibitnya sudah banyak dipesan oleh berbagai institusi di Semarang dan luar Semarang.
SOCIAL INCLUSION
KeSEMaT menjadikan Mangrove Sebagai Gaya Hidup. "Mangrove is Lifestyle". Mereka hanya Unit Pelaksana Kegiatan (Organisasi Mahasiswa) di bawah Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang, namun upaya yang mereka lakukan jauh melebihi dari tugas dan tanggung jawab yang mereka emban sebagai mahasiswa. Torehan prestasi KeSEMaT dalam bidang rehabilitasi mangrove di Indonesia ini, juga tak lepas dari kendala, terutama dalam hal pendanaan. Konsep swadaya - dimana mereka menyisihkan uang saku kuliahnya untuk membiayai program-program rehabilitasi mangrove mereka secara mandiri -, yang "dianut" oleh anak-anak muda ini, terkadang menimbulkan masalah disaat mereka harus menjalankan 30-an program kerjanya di setiap tahunnya. Tapi, tak mau kalah dengan keadaan, hal ini justru disiasati cerdik oleh para mahasiswa Ilmu Kelautan UNDIP ini, dengan cara membentuk sebuah perusahaan barang dan jasa khusus pelestarian mangrove, yang bernama KeSEMaT Mangrove Indonesia (CV KeMANGI). CV KeMANGI sudah mulai beroperasi sejak tahun 2011. Bersama dengan para Alumninya, yang tergabung dalam Yayasan Inspirasi Keluarga KeSEMaT (IKAMaT) yang didirikan pada tahun 2014, keduanya membantu pendanaan KeSEMaT dan saling bersinergi dan berprestasi tinggi dalam upayanya menyelamatkan hutan mangrove dan meningkatkan taraf hidup warga pesisir di Indonesia. Bersama dengan Yayasan IKAMaT, KeSEMaT membentuk tujuh divisi untuk membantu pemerintah dalam mengelola mangrove.
Scalability
KeSEMaT berdiri dikarenakan adanya aksi inisiatif dari 9 mahasiswa ilmu kelautan angkatan 1998 yang melihat rusaknya ekosistem mangrove di kawasan Telukawur. Aksi nyata dan dedikasi tinggi untuk mengembalikan dan merawat ekosistem mangrove Teluk Awur menghasilkan MECoK (Mangrove Education Center of KeSEMaT). Atas keberhasilan mendirikan dan merawat MECoK, kini KeSEMaT melebarkan sayapnya untuk mengembalikan dan merawat ekosistem mangrove di Pantura, pulau jawa, Indonesia, bahkan dunia. Tidak hanya itu, KeSEMaT juga melakukan aksi inisiatif untuk mengelola dan memanfaatkan mangrove secara konservatif dengan cara mengelola ekosistem mangrove untuk menjadi ekowisata dan menciptakan produk produk olahan dari mangrove berupa jajanan, batik, dan souvenir mangrove.KeSEMaT dengan motto “konservasi, penelitian, pendidikan, kampanye dan dokumentasi mangrove†memulai dengan aksi inisiatif dan menghasilkan berbagai penghargaan nasional dan internasional.
Replicability
Terlepas dari segala kendala dan solusi bijak yang telah ditemukan oleh KeSEMaT dalam mengatasi kelemahannya agar bisa terus menjaga kontinyuitas program-program rehabilitasi mangrove mereka, daya reduplikasi program-program mangrove KeSEMaT, juga sungguh dari luar biasa.Masyarakat luas, terutama generasi muda Indonesia, bisa dengan cepat mereduplikasi kegiatan mangrove KeSEMaT, untuk diadopsi di daerahnya masing-masing. Sebut saja, program Mangrove REpLaNT yang mulai dirintis KeSEMaT di tahun 2003, saat ini sudah menjadi sebutan wajib untuk setiap program rehabilitasi dan penanamanmangrove yang dilakukan di beberapa pesisir di Jawa.Sebagai tambahan, jargon dan sebutan seperti MANGROVING, MANGROVER, Bapak MANGROVER Indonesia, Salam MANGROVER, Semangat MANGROVER, SEMANGTEER dan lainnya, juga sudah membudaya di kalangan generasi muda Indonesia, terutama di media-media sosial, seperti Twitter, Instagram dan Facebook. Bahkan, setelah sukses menjadi juara 1 Nasional KOMPAS KAMPUS.
Share this solution:
[do_widget id=a2a_share_save_widget-2]
Equator Blog
[do_widget id=rpwe_widget-3]






