Indonesia Placeholder
Indonesia

 

About the Implementing organization

Lawe Indonesia

Country: Indonesia

Year of establishment: 2004

Type of organization: Komunitas berbasis asosiasi atau organisasi

Website: http://www.laweindonesia.com

Description

Lawe Indonesia merupakan community social enterprise yang diinisiasi pada tahun 2004 oleh 5 orang perempuan Indonesia, Adinindyah, Ita Natalia, Paramitha Iswati, Westiani Agustin dam Rina Anita. Ide untuk mendirikan Lawe muncul pertama kali pada saat Adinindyah dan Ita Natalia melakukan perjalanan dinas ke beberapa pelosok tanah air ketika masih bekerja pada sebuah lembaga sosial masyarakat. Dalam perjalanan dinas tersebut, mereka banyak bertemu dengan penenun tradisional yang hampir seluruhnya adalah perempuan.Sejak awal berdiri, Lawe Indonesia sudah konsen dengan kelompok masyarakat yang kebutuhan khusus (difable). Salah satu penjahit yang berkerja pada tim pengembangan produk adalah seorang tuna rungu-wicara. Selain melibatkan penyadang difable, Lawe Indonesia juga memberikan dampingan kepada kelompok-kelompok difable dengan berbagai ketunaan, yaitu tuna daksa, tuna rungu tuna wicara dan tuna grahita. Dampingan yang dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan baik skill dan soft skill dengan tujuan agar para penyandang difabilitas ini kedepannya dengan ketrampilan dan kemampuan yang mereka miliki dapat bekerja dan mempunyai penghasilan.Proses pendampingan yang dilakukan adalah dengan mendatangi kelompok-kelompok difable tersebut rutin seminggu sekali. Dan seluruh kebutuhan alat dan bahan disupport oleh Lawe Indonesia ataupun dari kerjasama dan dana sumbangan. Selain memberikan skill, Lawe Indonesia juga ingin mengurangi ketergantungan teman-teman difable terutama tuna daksa survivor gempa 2006 Bantul hidup dari dana bantuan. Karena suatu saat dana bantuan akan berhenti dan tentu akan jadi masalah baru jika teman-teman ini tidak memiliki keahlian atau ketrampilan sama sekali.Tenunan yang ada di berbagai daerah merupakan hasil karya tangan yang luar biasa, unik dan penuh dengan nilai kebudayaan. Namun masih banyak kendala yang dihadapi oleh para penenun diantaranya adalah keterbatasan kemampuan dalam memasarkan tenunan mereka dan dari segi kuantitas dan harga, tenun tradisional sulit untuk mengejar kain pabrikan.Menyadari kondisi tersebut, para inisiator tersebut memutuskan untuk mencoba mentransformasi tenun tradisional menjadi produk tenun yang lebih modern dan memiliki nilai tambah sehingga dikenal di pasar global. Tidak hanya ingin mengenalkan produk tenun tradisional secara global, tapi bertujuan juga untuk meningkatkan kualitas hidup para penenun dan melestarikan tenun sebagai salah satu budaya Indonesia. Selain pada masyarakat penenun, Lawe Indonesia juga fokus pada pemberdayaan perempuan dan para penyandang difabilitas. Wujud dari kegiatan tersebut adalah dengan menyelenggarakan berbagai pelatihan. Pelatihan yang diberikan berkaitan dengan teknik menjahit, mengelola kelompok dan materi dasar pengembangan usaha. Untuk pelatihan tersebut, peserta atau masyarakat tidak dibebani dengan biaya. Selama ini pembiayaan ditanggung oleh Lawe Indonesia murni, kerjasama dengan lembaga lain atau dana hibah.Untuk mendukung kegiatan tersebut, pada tahun 2018 Lawe Indonesia mengubah legal lembaga dari perhimpunan menjadi perkumpulan. Hal ini dengan tujuan agar memungkinkan Lawe Indonesia untuk melakukan aktivitas bisnis yang akan memberikan keuntungan bagi lembaga tersebut. Dan dari sebagian keuntungan tersebut, Lawe Indonesia menyisihkan untuk digunakan dalam membiayai pendampingan atau pemberdayaan masyarakat. Harapannya kedepan, program pemberdayaan dan pendampingan masyarakat tidak lagi menggantungkan dana yang bersumber dari pihak lain atau hibah.

Nature Element

Hutan

Type of Action

Membangun kesadaran dan pendidikan︱Alternatif berbasis alam untuk ekonomi yang karbon intensif: kewirausahaan ramah lingkungan︱Inovasi mekanisme pembiayaan︱Korporasi rantai pasokan yang berkelanjutan

Sustainable Development Element

Pekerjaan dan mata pencaharian︱Pendidikan︱Konsumsi dan produksi yang berkelanjutan︱Rekanan

Related Sustainable Development Goal(s)

        

Environmental Impacts

Proses produksi konveksi menghasilkan sampah yang mayoritas berupa sampah anorganik yakni sampah dari sisa-sisa produksi seperti sisa benang, kain potongan, kones bekas gulungan benang, kardus bekas pengepak benang dan masih banyak jenisnya lagi. Limbah tersebut dapat menimbulkan tantangan ekologis jika tidak dikelola dengan baik. Dapat menimbulkan sampah jika ditumpuk begitu saja, dapat menimbulkan polusi udara jika dibakar.Maka begitu beerbahayanya limbah konveksi ini. Tetapi Lawe, selama 4 tahun ini telah membangu program yang dapat mengurangi sampah dan dapat sedikir mengurangi pengrusakan dalam ekosistem. Belum lagi, LAWE juga turut dalam mendampingi anak-anak difable dan perempuan memegan peran penting dalam program ini.


CLIMATE IMPACTS

Awalnya Lawe memang mempunyai program Zero Waste berkerjasama dengan DAGADU (salah satu perusahaan swasta yang bergerak dalam bindang retail). LAWE melihat dalam Proses produksi konveksi menghasilkan sampah yang mayoritas berupa sampah anorganik yakni sampah dari sisa-sisa produksi seperti sisa benang, kain potongan, koneksi bekas gulungan benang, kardus bekas pengepak benang dan masih banyak jenisnya lagi. Limbah tersebut dapat menimbulkan tantangan ekologis jika tidak dikelola dengan baik. Dapat menimbulkan sampah jika ditumpuk begitu saja, dapat menimbulkan polusi udara jika dibakar.Belum lagi, Sebagaimana diketahui bahwa di Yogyakarta banyak sekali industri konveksi yang memiliki limbah berupa potongan kain - kain berukuran kecil “yang sering disebut kain perca- dan dari limbah tersebut ternyata bisa kita manfaatkan dengan mengubahnya menjadi produk unik dan kreatif.

Sustainable Development Impacts

Sampai tahun 2018, kelompok yang didampingi oleh Lawe Indonesia masih dilingkup Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kelompok yang didampingi adalah kelompok perempuan, Sekolah Luar Biasa dan masyarakat umum penyandang difabilitas. Tujuan dari pelatihan dan pendampingan ini adalah untuk memberikan bekal skill dan soft skill bagi kelompok perempuan dan difable. Pendampingan yang dilakukan oleh Lawe Indonesia adalah pendampingan jangka panjang. Dampingan yang dilakukan terkait dengan ketrampilan menjahit dan pengembangan produk craft. Hal ini berdasarkan pada keseharian yang dilalukan oleh Lawe Indonesia.Proses yang dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan , seminggu sekali tim dari Lawe Indonesia secara bergiliran mendatangi kelompok. Pertama yang dilakukan adalah pemetaan terhadap potensi masing-masing peserta dalam kelompok dampingan dan support alat yang mereka miliki. Dalam masing-masing kelompok, anggota kelompok dampingan memiliki kemampuan yang berbeda-beda.


RESILIENCE, ADAPTABILITY, AND SELF-SUFFICIENCY

Lawe Indonesia mengajarkan kepada kelompok-kelompok yang didampingi, tentang bagaimana standart kualitas produk, pengembangan desain, menghitung harga pokok produksi, menentukan harga jual dan pemasaran. Tujuan dari materi ini adalah agar kelompok dapat melakukan negosiasi sendiri dengan lembaga yang akan melakukan order pada mereka. Contoh sederhana dari ini adalah, mendorong kelompok untuk tidak hanya melakukan proses pengerjaan saja tapi juga mulai dari penyediaan bahan. Sehingga mereka tidak hanya menerima upah kerja tapi juga bisa memperoleh keuntungan lebih dari order tersebut.Sampai saat ini, kerjasama dengan lembaga lain belum dalam skala yang besar, tapi masih menyesuaikan dengan kemampuan anggota kelompok. Dan hal ini selalu dijelaskan sejak awal kepada lembaga yang akan bekerjasama dengan mereka. Namun, kadang ada permasalahan terkait dengan pekerjaan yang datang dari lembaga lain, dan sampai saat ini Lawe Indonesia selalu turun langsung untuk membantu kelompok menyelesa.Proses dampingan yang dilakukan oleh Lawe Indonesia dilakukan dengan ketat tapi informal model komunikasi kekeluargaan, dengan tujuan untuk membangun kedekatan sehingga dimungkinkannya adanya sharing atau curhat dari peserta. Sharing yang muncul tidak hanya terkait dengan materi pelatihan tetapi juga permasalan keluarga atau personal. Dari sharing ini, pendamping dari Lawe Indonesia memiliki kesempatan untuk memberikan masukan tentang bagaimana sebuah relasi dibangun antara yang normal dengan yang berkebutuhan khusus, antara laki-laki dan perempuan, antara suami dan istri. Relasi yang sejajar, tidak ada ketimpangan atau “lebih tinggi atau kuat” dari satu dengan yang lain. Memberikan gambaran bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa sama tapi ada yang sama bisa dilakukan oleh laki-laki dan perempuan baik yang normal maupun yang berkebutuhan khusus.Dengan pelatihan basic menjahit, sebenarnya ini juga merupakan pengajaran kesetaraaan pada masyarakat. Lebih sedikit peserta laki-laki karena mereka menganggap menjahit adalah pekerjaan perempuan. Namun dengan memberikan gambaran kerja dan peluang-peluang yang sama untuk laki-laki dan perempuan pada jenis pekerjaan ini, laki-laki yang mengikuti pelatihan menjadi lebih terbuka dan tidak rendah diri. Untuk skill juga demikian, bagi pesert yang normal dynamo dioperasikan dengan kaki, namun untuk anggota kelompok tuna daksa dinamo dioperasikan dengan tangan.


REDUCED INEQUALITIES

Proses dampingan yang dilakukan oleh Lawe Indonesia dilakukan dengan ketat tapi informal model komunikasi kekeluargaan, dengan tujuan untuk membangun kedekatan sehingga dimungkinkannya adanya sharing atau curhat dari peserta. Sharing yang muncul tidak hanya terkait dengan materi pelatihan tetapi juga permasalan keluarga atau personal. Dari sharing ini, pendamping dari Lawe Indonesia memiliki kesempatan untuk memberikan masukan tentang bagaimana sebuah relasi dibangun antara yang normal dengan yang berkebutuhan khusus, antara laki-laki dan perempuan, antara suami dan istri. Relasi yang sejajar, tidak ada ketimpangan atau “lebih tinggi atau kuat” dari satu dengan yang lain. Memberikan gambaran bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa sama tapi ada yang sama bisa dilakukan oleh laki-laki dan perempuan baik yang normal maupun yang berkebutuhan khusus.Dengan pelatihan basic menjahit, sebenarnya ini juga merupakan pengajaran kesetaraaan pada masyarakat. Lebih sedikit peserta laki-laki karena mereka menganggap menjahit adalah pekerjaan perempuan. Namun dengan memberikan gambaran kerja dan peluang-peluang yang sama untuk laki-laki dan perempuan pada jenis pekerjaan ini, laki-laki yang mengikuti pelatihan menjadi lebih terbuka dan tidak rendah diri. Untuk skill juga demikian, bagi pesert yang normal dynamo dioperasikan dengan kaki, namun untuk anggota kelompok tuna daksa dinamo dioperasikan dengan tangan.


GENDER EQUALITY

Di program ini banyak juga mendampingi perempuan difable yang juga sebagai siswa yang ada di SLB Bantul, SLB Pembina dan SLB Semin Gunung Kidul. Terdapat lebih dari 50 orang atau sekitar 40% dari jumlah pendampingan dari Lawe Indonesia.


SOCIAL INCLUSION

Proses pendampingan yang dilakukan oleh Lawe Indoensia dlakukan sampai peserta/kelomppok dinyatakan lulus. Namun setelah itu sebenarnya masih ada proses lain, yaitu mempertemukan mereka dengan jalur-jalur pekerjaan. Salah seorang dampingan yang diberikan ketrampilan menyulam, oleh Lawe Indonesia dihubungkan dengan seorang seniman lukis di Jogja untuk mengerjakan sulaman pada lukisannya. Contoh lain adalah salah seorang siswa lulusan SLB yang dipertemukan dengan salah seorang prousen sabun alami (dengan brand Artasena). Awalnya produsen ini menginginkan penjahit yang tidak memiliki ketunaan dan dengan hasil yang sempurna. Namun Lawe Indonesia mencoba menjelaskan bahwa dengan memberikan pekerjaan pada orang yang memiliki ketunaan, dan hasil yang tidak sempurna disini justru ada nilai “plus” yang bisa dibawa oleh brand Artasena. Mulai tahun 2016 sampai sekarang, Artasena masih melakukan pemesanan pembuatan kantung untuk sabunnya pada lulusan SLB tersebut. Dan jika ada kebutuhan-kebutuhan sumber daya manusia, Artasena juga masih meminta untuk mencarikannya dari orang-orang yang sudah didampingi oleh Lawe Indonesia.Ada salah satu rekanan dari UIN Yogyakarta yang dengan programnya pembalut ramah lingkungan, meminta Lawe Indonesia mengajarkan kepada teman-teman di kelompok difable survivor Gempa Jogja 2006 untuk menjahit pembalut. Jadi selain orderan rutin dari Lawe Indonesia, saat ini mereka juga mengerjakan orderan pembalut ramah lingkungan.

Scalability

Dari apa yang Lawe Indonesia lakukan untuk kelompok perempuan dan difable di Yogyakarta, mulai tahun 2019 dengan pendanaan dari SGP-GEF, Lawe Indonesia mulai bergerak ke 3 wilayah lain yaitu Gorontalo, Kupang dan Bali. Di tiga wilayah ini Lawe Indonesia berkerja dengan 4 lembaga, 3 SLB dan 1 Yayasan untuk difable.Kegiatan ini diawali dengan memberikan workshop kepada wakil atau koordinator dari masing-masing lembaga. Tujuan workshop adalah untuk 1. Mendiskusikan fakta di lapangan terkait dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendukung kemandirian difable di 3 wilayah tersebut2. Merumuskan program-program bagi difable untuk diterapkan di masing-masing wilayah atau kelompok dampingan.3. Masing-masing lembaga peserta workshop membuat proposal untuk dilaksanakan atau diterapkan pada kelompok dampinganDengan mulai melakukan kerja-kerja dengan wakil dari wilayah-wilayah tersebut, diharapkan dapat dilakukan perluasan jaringan. Apalagi untuk ketiga wilayah ini melibatkan 3 SL.

Replicability

Kegiatan pendampingan untuk perempuan awalnya dimulai dari warga disekitar workshop atau kantor Lawe Indonesia pada tahun 2014, setelah hampir 1tahun peserta mampu membuat soft toys dan sampai saat ini masih terus mengerjakan order dari Lawe Indonesia khusus pembuatan soft toys.Untuk difable, awalnya dimulai pada tahun 2016 dengan peserta survivor gempa Jogja 2006. Kegiatan untuk difable semakin berlankut dengan memberikan dampingan pada kelompok-kelompok lain. Yaitu pada siswa-siswi SLB Pembina yang baru saja lulus dengan didampingi orang tua mereka. Kemudian pada institusi yang sama, dilanjutkan dengan mendampingi anak-anak yang masih aktif sekolah dengan pendamping harian adalah guru kelas. Pada kelompok ini, dilakukan penggalian potensi masing-masing siswa dan kemudian memberikan pancingan kepada para guru agar ada sinergi antar jurusan. Misalnya ada hasil karya dari siswa kelas tekstil berupa sulaman, yang kemudian dikombinasikan dengan karya kelas busana dan muncul produk baru.

Share this solution:

[do_widget id=a2a_share_save_widget-2]